Showing posts with label infodesa. Show all posts
Showing posts with label infodesa. Show all posts

Monday, 27 July 2015

Bupati Purbalingga Resmikan Portal Wisata Gunungwuled

SIARAN PERS DAPAT SEGERA DITERBITKAN


Bupati Purbalingga Resmikan Portal Wisata Gunungwuled




PURBALINGGA. Bupati Purbalingga Sukento Ridho Marhaendrianto secara resmi meluncurkan website organisasi Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled bernama www.jemarigunungwuled.or.id, Senin (20/7). Portal online ini dibangun dengan tujuan utama untuk mempromosikan wisata alam di Desa Gunungwuled.

Acara peluncuran digelar di Masjid Zadid Taqwa Desa Gunungwuled. Peresmian ini juga disaksikan oleh Camat Rembang Suwarto dan Kepala Desa Gunungwuled Suwarno.

Bupati Purbalingga mengapresiasi keberadaan pemuda yang ingin mengembangkan desanya menjadi daerah wisata. Beberapa potensi wisata yang bisa dikembangkan di Gunungwuled di antaranya adalah air terjun atau Curug Bawahan, Curug Kalipete, Sumber Air Panas Kali Anget, Petilasan Si Onje, Puncak Gunung Pucung dan Watu Geong. "Ini adalah potensi desa yang harus dikembangkan menjadi obyek wisata," ungkap Sukento.

Untuk mengembangkan daerah wisata, menurut Sukento, yang pertama kali harus diperhatikan adalah akses transportasi menuju lokasi obyek wisata. Saat ini beberapa lokasi wisata di Gunungwuled cukup mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Salah satunya adalah Curug Bawahan yang sudah bisa dijangkau hingga hingga ke lokasi air terjun dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Selain itu, akses transportasi menuju puncak Gunung Pucung dan Watu Geong sudah menjangkau hingga Dusun Sidamukti.

Selanjutnya perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Sedangkan lokasi sumber air panas Kali Anget masih sulit dijangkau dan tersembunyi di tengah hutan pinus Dusun Pentul Gunung.  

Selain menawarkan keindahan alam sebagai obyek wisata utama, ia meminta warga masyarakat desa sepanjang perjalanan menuju obyek wisata menghiasi halaman rumahnya dengan taman dan bunga agar terlihat lebih indah.

Lalu untuk promosi wisata, Sukento menyarankan agar selain melalui website, promosi juga gencar dilakukan lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, BBM, Line dan lain-lain. "Pasang foto gadis cantik dan pemuda yang ganteng saat berada di lokasi wisata, biar menarik," ujar Sukento.

Jika obyek wisata dan masyarakat sekitar sudah siap menyambut wisatawan, maka Desa Gunungwuled selanjutnya bisa ditetapkan sebagai sebuah desa wisata.  

Ketua Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled (Jemari Gunungwuled), Zulfikar Abdullah Iman Haqiqi mengatakan Jemari Gunungwuled aktif mempromosikan potensi wisata Gunungwuled melalui internet dan media sosial. "Wisatawan yang datang ke Gunungwuled, terutama Curug Bawahan, Gunung Pucung dan Watu Geong terus bertambah. Sayangnya pengelolaan obyek wisata belum maksimal," kata Zulfikar.

Ia berharap dengan adanya dukungan dari Bupati Purbalingga, Desa Gunungwuled bisa mendapatkan pembinaan dan dukungan dana agar bisa berkembang menjadi desa wisata. 

Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled atau Jemari Gunungwuled merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang bermarkas di Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Organisasi ini benar-benar murni buah kreatifitas pemuda, bukan organisasi bentukan pemerintah atau partai politik tertentu. Maka keunikan organisasi ini tidak akan bisa ditemui di organisasi pemuda lainnya terutama yang berbasis di pedesaan.

Organisasi berlambang lentik jemari ini resmi berdiri pada 11 Januari 2011. Setelah media sosial berkembang pesat, pembangunan organisasi banyak mengandalkan grup Facebook. Saat ini anggota grup Facebook Jemari Gunungwuled berjumlah lebih dari 600 orang. 
 
Sebagai organisasi pemuda yang independen dan bebas dari kepentingan politik, Jemari Gunungwuled bergerak dengan fokus kegiatan di bidang sosial kemasyarakatan. Rangkaian kegiatan organisasi yang pernah digelar di antaranya adalah pemutaran film Purbalingga, gelar seni dan budaya Gunungwuled, parade band se-Kecamatan Rembang, lomba fashion show anak usia dini, buka bersama dan santunan anak yatim piatu, pengajian akbar, pengembangan tempat wisata Gunung Pucung, arisan dan lain-lain. 

Contact person: Sofyan Nur Hidayat 081326403362

Tuesday, 21 July 2015

Menjelajahi Eksotisme Gunungwuled

Nama Gunungwuled nyaris tak pernah terdengar dalam riuhnya pemberitaan media di Tanah Air. Di dunia pariwisata, tempat yang satu ini juga tak pernah disebut sebagai sebuah destinasi. Tapi jangan langsung memandang remeh. Simak dulu ulasan tempat-tempat eksotis di Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga berikut ini.

Pertama, sunrise spot di puncak Gunung Pucung. Akhir-akhir ini foto selfie di atas puncak gunung banyak bertebaran di media sosial. Ya, foto selfie di puncak gunung kini telah menjadi tren anak muda.

Anda yang ingin mengikuti tren tapi tak jago panjat gunung super tinggi tak perlu risau. Puncak Gunung Pucung dengan keindahan alamnya bisa dijangkau hanya dalam waktu sekitar 35 menit dari Dusun Sidamukti, Gunungwuled yang merupakan lokasi terdekat yang bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Dari atas puncak, Anda bisa menikmati hamparan keindahan pegunungan dan alam sekitar. Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, Anda bisa datang pagi hari untuk menikmati panorama alam matahari terbit (sunrise).

Karena keindahan alamnya, puncak Gunung Pucung sudah lama menjadi spot untuk berkemah (camping) sejumlah sekolah di Purbalingga dan Banjarnegara. Setidaknya di puncak gunung ini, Anda bisa mendirikan minimal empat tenda.

Kedua, Watu Geong. Jalur pendakian Watu Geong sama dengan puncak Gunung Pucung. Jadi disarankan Anda mendaki dari Dusun Sidamukti naik ke Gunung Pucung, lalu berjalan lagi ke Gunung Korakan yang berada di sebelahnya. Tak jauh kok, paling lama perjalanannya sekitar 30 menit melewati jalan setapak yang masih penuh semak belukar.

Magnet utama tempat ini adalah keberadaan sebuah batu seukuran rumah yang seolah menggantung (geong-geong, dalam bahasa Jawa Banyumas) di salah satu puncak Gunung Korakan, sebelah selatan Desa Gunungwuled. Tentu saja, Anda bisa menikmati keindahan alam raya yang terhampar dari sini.
Dahulu kala, batu raksasa ini kerap dijadikan sebagai tempat bertapa atau bersemedi untuk mencari wangsit. Tapi kini Watu Geong menjadi salah satu destinasi yang menyedot kunjungan banyak orang yang ingin berpetualangan di alam bebas.

Ketiga, rangkaian Air Terjun Bawahan dan Kalipete. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Curug Bawahan (Air Terjun Bawahan) karena lokasinya yang berada di Dusun Bawahan Desa Gunungwuled. Sebagian lagi menyebutnya dengan nama Curug Panyatan karena air pegunungan yang mengalir pada air terjun ini berasal dari Sungai Panyatan.

Di Air Terjun Bawahan, Anda disuguhi pemandangan air terjun yang aduhai. Kesejukan  udara hutan pinus menambah sejuk suasana pegunungan. Cocok untuk melepas lelah dan penat dari bisingnya kehidupan perkotaan.

Dari bawah air terjun, Anda bisa melakukan pendakian melewati hutan pinus menuju bagian puncak Curug Bawahan. Di sana pemandangannya juga tidak kalah mengasyikan. Di sini suasananya benar-benar hening karena jauh dari pemungkiman penduduk.

Setelah puas menikmati keindahan Curug Bawahan, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Curug Kalipete yang merupakan satu rangkaian air terjun sepanjang Kali Panyatan. Lokasi tepatnya berada di Dusun Karang Anyar, Gunungwuled. Sepanjang perjalanan dari Curug Bawahan - Curug Kalipete, Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan beberapa air terjun kecil di dinding-dinding tebing.

Keempat, Sumber Air Panas Kali Anget. Tak banyak yang tahu bahwa Gunungwuled memiliki tempat pemandian air panas. Tempat ini benar-benar masih perawan dan tersembunyi. Ya, lokasinya berada di Dusun Pentul Gunung.

Sepeda motor hanya bisa menjangkau sampai Pentul Gunung. Perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan jalan kaki melewati hutan pinus sekitar 30-40 menit. Untuk mencapai lokasi, Anda perlu bantuan pemandu warga sekitar karena lokasinya benar-benar tersembunyi.

Sumber air panas di Gunungwuled berasal dari kandungan belerang yang keluar dari celah-celah dinding batu di pinggir sungai. Hal itu bisa tercium dari aroma yang keluar serta warna cokelat pada air dan batu di sekitarnya. Tidak ada fasilitas apa-apa di obyek ini. Hanya ada pancuran bambu untuk mandi.

Belerang sendiri bisa menjadi obat penyakit gatal-gatal dan berbagai penyakit kulit lainnya. Wajarlah jika banyak orang ke tempat itu hanya sekedar untuk mandi. Tempat ini benar-benar sebuah hutan nan sunyi. Yang akan terdengar hanya suara gemericik air dan burung-burung hutan.

Kelima, Si Onje. Sebuah petilasan di Gunungwuled bernama Si Onje banyak dikunjungi orang dari luar daerah pada hari-hari tertentu. Tapi kunjungan orang ke Si Onje akan ditutup selama bulan puasa. Nah sebelum masuk bulan Ramadhan, ada sebuah acara yang digelar disebut Tutupan.

Si Onje sendiri merupakan sebuah hutan kecil yang asri. Di dalamnya terdapat makam kuno yang diyakini warga sekitar sebagai makam Syeh Rubiah Kembang (atau Rubiah Sekar). Ada beberapa pondok peristirahatan bagi pengunjung yang datang.

Tradisi Tutupan Si Onje sudah berlangsung selama ratusan tahun. Saat acara tutupan, ratusan orang dari desa-desa di sekitarnya berdatangan ke Si Onje. Mereka datang dengan membawa berbagai makanan seperti nasi tumpeng, lauk pauk dan sayuran. Di sana juga akan dipotong seekor kambing jantan yang langsung dimasak di pinggir sungai.

Seluruh makanan yang dibawa warga dan daging kambing yang sudah masak ditempatkan pada daun pisang sepanjang lorong petilasan. Setelah semuanya siap, tibalah acara puncak. Seremoni budaya Gunungwuled itu berupa pembacaan dzikir dan doa yang dipimpin oleh juru kunci Si Onje bernama Eyang Samsudin. Selanjutnya acara kenduri atau makan bersama dimulai. Setelah selesai orang-orang biasanya berebut sisa makanan yang ada untuk dibawa pulang ke rumah karena dipercaya bisa membawa berkah.

Oya, untuk mencapai desa Gunungwuled Anda bisa menggunakan mikrobus dari terminal bus Purbalingga menuju Desa Losari, Rembang dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Selanjutnya dari Desa Losari, terdapat kendaraan bak terbuka yang mengangkut penumpang ke Gunungwuled.
Tapi karena sepinya penumpang, angkutan publik ini sudah jarang beroperasi kecuali pada hari pasaran Manis dan Pon.  Jika tidak, ojek menjadi alternatif transportasi satu-satunya dengan lama perjalanan sekitar 15 menit.

Cukup menarik kan potensi destinasi wisata di Gunungwuled?
Happy Travelling

Penulis: S.N Hidayat

DISCLAIMER: Semua tujuan wisata di Gunungwuled masih dalam tahap pengembangan jadi belum tersedia infrastruktur dan fasilitas yang memadai sebagai sebuah obyek wisata pada umumnya. Potensi wisata ini masih dalam bentuk aslinya di alam bebas tanpa polesan. Jadi bukan tidak mungkin sejumlah kendala akan dihadapi orang yang berkunjung ke obyek wisata di Gunungwuled. Sebagai sebuah destinasi, Gunungwuled hanya cocok untuk orang yang suka berpetualang.

Friday, 12 December 2014

Tjerita Pasar Kliwon

Hari ini Jumat Kliwon, 12 Desember 2014. Bukan kisah mistis dan keramat seputar malam Jumat Kliwon yang akan dibahas dalam tulisan ini. Sebaliknya, saya akan membawa tuan dan nyonya, muda dan mudi, saudara-saudara sekalian untuk menjelajahi kembali suasana Desa Gunungwuled pada tiga atau empat dasawarsa silam.   

Sungguh tak patut, orang-orang desa ini lupa, bahwa di lereng gunung Korakan pernah berdiri sebuah pasar tradisional. Pasar yang menjadi tempat ratusan orang menggantungkan nasib periuk dan asap dapurnya.

Namanya Pasar Kliwon. Nama yang diciptakan sesuai pancawara alias hari pasaran dalam budaya Jawa. Pasar Kliwon berarti pasar hanya digelar sehari dalam sepekan yakni hari Kliwon. Perlu dicatat, sepekan hanya terdiri dari lima hari yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Paing.

Di hari Kliwon ini tiga dasawarsa silam atau awal 80-an, orang-orang beriringan di pagi buta menyusuri jalanan desa yang tersusun dari batu-batuan kali Gintung.

Dari arah timur, perempuan-perempuan perkasa menggendong bakul berisi ikan pindang atau ikan panggang yang dibalut daun pisang serta berbagai sayur-sayuran seperti muncang, seledri atau kobis.

Para laki-laki bertelanjang dada memikul dua keranjang penuh berisi gula kelapa atau buah pisang. Mereka datang dari desa dan dusun seberang kali Gintung. Sebagian orang harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dari desa Pandanarum dan desa Lawen, Banjarnegara.

Orang-orang memikul keranjang gula kelapa dengan tali sendet. Langkahnya berirama mengikuti suara musik entriit...entriit... entriiit...entriit. Suara itu tercipta dari gesekan tali sendet lantaran gerakan bahu pemikul naik-turun saat berjalan.

Jika musimnya tiba, berpikul-pikul buah-buahan datang seperti durian, manggis atau jambu tokal. Coba perhatikan, pikulan jambu tokal paling istimewa. Buah berwarna pink merona ini ditusuk satu persatu di bagian pangkal buahnya dengan tali bambu muda, digandeng membentuk sebuah kalung. Satu ikat berisi sepuluh buah jambu tokal.

Ikatan-ikatan itu digantungkan dan ditata rapi di rangka khusus dari bambu berbentuk seperti menara pisa. Dua rangka digabungkan dengan belahan bambu yang berfungsi untuk mengangkat beban dan ditaruh di atas bahu. Satu pikul berisi puluhan bahkan ratusan ikat. Jambu tokal menggiurkan. Rasanya manis dan segar.

Dari arah barat, orang-orang datang membawa dagangan sandang, aneka bumbu masak atau jajan pasar seperti lopis, lontong, apem, cucur atau mendoan. Mereka jauh-jauh datang dari Pengadegan atau Karangmoncol.

Dari berbagai penjuru itu, orang-orang berduyun-duyun menuju satu titik: Pasar Kliwon. Lokasinya di sana, ya di sekitar tanah lapang beraspal yang sekarang disebut stamplat.

Lapak tikar pandan digelar berderet di sisi kiri dan kanan jalan. Ada pula beberapa lapak permanen yang berdiri di sebelah selatan jalan. Beberapa warung makan menggelar dagangan. Setiap hari pasaran, puluhan ayam jago dipotong dan dimasak menjadi gulai dengan bumbu kental.

Pasar Kliwon hadir ketika tanah leluhur ini masih dipimpin oleh Lurah Sastro. Di hari pasar, dia biasanya berkeliling pasar dengan menunggang kuda. Ia tampak gagah saat berada di atas punggung kuda jantan berwarna cokelat tua.

Setiap kali melihat Lurah Sastro berkuda, anak-anak kecil girang sekaligus takut. Girang karena bisa menatap kuda dari jarak dekat. Maklum di desa ini, hanya Lurah Sastro seorang yang memelihara kuda. Kudanya ada dua ekor. Jantan semua.

Tapi anak-anak lugu itu takut kalau sampai disepak kaki kuda yang berotot. Konon pernah ada penduduk desa yang jatuh disepak kuda ini gara-gara kurang ajar memegang-megang ekornya yang panjang menjuntai.

Walaupun ada rasa takut, anak-anak itu sebenarnya tak sepenuhnya takut. Buktinya begitu kuda berjalan, mereka berlari-lari kecil mengikuti dari belakang. Mereka paling suka melihat kuda dipacu kencang. Hentakan kaki-kaki kuda menerbangkan debu-debu jalanan. Suara ringkikan kuda memberi sinyal agar orang-orang di jalanan menepi. Biasanya penduduk menyapa Lurah Sastro sambil sedikit membungkukkan kepala. Tempo dulu, jabatan lurah sangat dihormati. Ia priyayi yang membuat semua orang segan.

Sayangnya Pasar Kliwon tidak lama beroperasi. Jumlah pedagangnya bertambah banyak, tapi pembelinya sedikit. Sekitar tahun 1986-1987, pasar tradisional ini semakin sepi. Hingga akhir 80-an, Pasar Kliwon hidup segan mati tak mau. Ada pemilik lapak yang tetap bertahan. Lapak pasar yang terakhir kali buka sebelum benar-benar tutup adalah warung makan Ny. Sandiwirya dan tukang cukur rambut Eyang Ahmadi.

Sejak saat itu, orang-orang desa ini melupakan Pasar Kliwon. Berbagai upaya untuk membangkitkan kembali pasar tradisional ini tak pernah terwujud.

Pasar Kliwon tinggal cerita. Sama seperti pendahulunya Pasar Paing. Sebuah pasar tradisional yang berdiri di jaman Lurah Haji Malik Ibrahim dan lurah-lurah pendahulunya. Tapi pasar ini malah lebih ramai dari Pasar Kliwon. Lokasi pasarnya membujur sepanjang jalan wates dari selatan ke utara.

Sayangnya, tak banyak kabar Pasar Paing yang tersiar. Yang tersisa dalam ingatan, dahulu harga kambing di Pasar Paing tak semahal sekarang. Seekor kambing bandot paling mahal dihargai Rp 5.000 di tahun 70-an. Nominal duit yang dipergunakan juga tidak sebanyak sekarang. Orang-orang desa biasa berbelanja hanya dengan membawa beberapa kepeng rupiah, beberapa sen, beberapa ketip, beberapa kelip atau beberapa talen. 

Satu rupiah itu bernilai sama dengan seratus sen. Satu rupiah setara dengan sepuluh ketip. Satu ketip nilainya dua kelip. Lalu, satu rupiah sama dengan empat tali (talen). Jadi satu ketip sama dengan sepuluh sen. Sedangkan satu tali sama dengan 25 sen, serta satu kelip nilainya sama dengan lima sen.

Tuan dan nyonya, muda dan mudi, saudara-saudara sekalian. Perputaran uang di Pasar Paing atau Pasar Kliwon mungkin tak cukup besar, tapi setiap ketip yang bergulir mampu menggerakkan roda perekonomian desa kala itu. Sekian.

*****

*Rekonstruksi sejarah Pasar Kliwon dan Pasar Paing ini disusun berdasarkan secuil ingatan penulis Sofyan NH yang masih menyaksikan puing-puing terakhir Pasar Kliwon. Sumber lainnya berasal dari penuturan salah seorang pelaku sejarah.

Ini lokasi bekas Pasar Kliwon.





Thursday, 11 December 2014

Siapakah Kyai Wuled?


Dalam sebuah cerita tutur. Kyai Wuled digambarkan sebagai tokoh berwibawa yang berani menentang pusat pemerintahan Kadipaten Purbalingga. Ketika kadipaten berupaya memaksakan kehendak atas tanah leluhur ini, Sang Kyai murka dan berontak.

Kedatangan putra Adipati Onje berjuluk Pangeran Cakrakusuma bersama pasukannya ditentang. Sang Kyai berubah jadi raksasa. Kaki kirinya menginjak gunung Korakan di sebelah utara, kaki kanannya menghujam gunung Siringgeng di sebelah selatan.

Suaranya yang keras membelah langit, meminta Pangeran Cakrakusuma agar tak usah memaksakan kehendak. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Pangeran Cakrakusuma bersama pasukannya pun ketakutan dan lari tunggang langgang menjauh dari tanah merdeka ini.

Siapakah Kyai Wuled sebenarnya?????

Monday, 9 June 2014

Tolong Pulangkan Anakku Secepatnya

PROLOG: Kisah ini terjadi di permulaan tahun 1981 silam. Sangat menyentuh. Ini juga bisa menggambarkan bagaimana awal mulanya warga Desa Gunungwuled dan sekitarnya banyak yang pergi merantau ke Ibukota Jakarta, dengan membawa segudang cita-cita. Di jaman Desa Jembangan dan Gunungwuled masih terisolasi dari dunia luar karena jalan raya dan moda transportasi yang mendukung belum tersedia, seorang wartawan Kompas datang untuk menyuarakan kepedihan hati seorang ibunda yang anaknya teraniaya di tanah perantauan lewat tulisan ini. Ambillah nilai-nilai positif dari kisah ini. Bukan untuk membuka luka lama, kami menyampaikan simpati untuk keluarga.

*****

"TOLONG Nak mintakan Saminah pulang secepatnya. Setiap malam saya menangis ingat kesusahannya. Salah apa Saminah sampai ia diperwasa (ditangani) majikannya. Saya belum lega kalau Saminah belum pulang ke sini."

Pesan ini datang dari Mbok Kaslam, Ibu dari Saminah. Gadis pembantu rumah tangga yang dipukul majikannya di Jakarta. (Kompas, Minggu 1 Februari 1981)

Rumah Mbok Kaslam terletak di Desa Jembangan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Rumah berupa pondok sederhana itu berada di puncak bukit terpencil dan sunyi. Persis di pinggir Kali Gintung yang memisahkan Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara. Saya menyebrangi Kali Gintung dan secara kebetulan bertemu dengan ibu tua yang sedih karena nasib anaknya itu.

Menurut tetangganya, Mbok Kaslam menangis bergulung-gulung ketika mendapat kabar bahwa Saminah mendapat susah karena dipukul majikannya. Kabar itu datang dari Tarmin, petugas sosial yang datang ke Jembangan untuk menceritakan tentang Saminah.

Maklum Mbok Kaslam adalah orang desa yang lugu dan sederhana. Jalan pikirannya lurus, anaknya pasti bersalah sampai dipukul majikannya. Ia tak mengandaikan hal lain, misalnya kesusahan anaknya justru disebabkan oleh majikan yang sewenang-wenang terhadap pembantunya.

"Saminah adalah anak rajin dan baik. Seumur hidupnya memecahkan satu piring pun belum pernah. Kaning apa ning kana tersinggung (kenapa di Jakarta ia mendapat susah)?" kata Mbok Kaslam. Kelihatan betapa sedih ia.

Luhe Nyong Gemrujug

Saminah sendiri anak bungsu dari empat bersaudara. Kakaknya, Jasmini namanya, juga pernah pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagai pembantu. Tetapi, ia tidak kerasan karena gajinya sangat kecil. Maka ia balik ke Jembangan.

Ayah-ibu Saminah sebenarnya tidak mengizinkan Saminah pergi ke Jakarta. Tetapi, Saminah yang kesirihan (kena pengaruh) teman-temannya, nekat memutuskan pergi. Katanya, untuk cari uang dan pengalaman.

"Semalam sebelum ke Jakarta. Ia terus saya tangisi. Dan ketika Saminah menyebrangi Kali Gintung untuk berangkat cari kerja luhe nyong gemrujug (air mata saya terus berlinang). Sehari-hari saya tak dapat lupakan padanya," kata Mbok Kaslam.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Saminah menjual kambing peliharaan seharga Rp 8.000. Dari uang itu ia membeli setengah gram emas. Kemudian emas itu dipinjamkan kepada Raminah, gadis Desa Gunung Wuled yang segera akan berangkat ke Jakarta. Janjinya, emas setengah gram itu akan dikembalikan menjadi dua gram bila Raminah sudah punya uang.

Raminah lalu berangkat ke Jakarta. Belum berselang lama Raminah sudah pulang dari desanya. Ia tertipu oleh pemuda Jakarta yang bersedia menjadi pacarnya. Sebagian miliknya diserahkan kepada pemuda itu. Tetapi, nyatanya semuanya dibawa lari. Waktu terjadi kasus Saminah, Raminah baru pulang dari Jakarta dengan sisa-sisa uangnya.

Keluarga Mbok Kaslam mendengar bahwa Ruminah pulang. Waktu itu mereka tidak mempunyai uang sama sekali. Maka terpaksa mereka minta agar Raminah mengembalikan pinjaman yang dulu diberikan Saminah kepadanya.

"Kebetulan Raminah mempunyai uang Rp 10.000. Dengan uang Rp 10.000 itulah kami berangkat menengok Saminah di Jakarta. Uang itu sebenarnya adalah uang Saminah. Hasil penjualan kambingnya. Tetapi terpaksa kami pakai karena tidak punya uang," kata Jasmini.

Ditengok Kakak

Dengan ditemani Mukri kakak iparnya, Jasmini memang sudah menengok Saminah ke Jakarta. "Saminah menangis terus ketika kami datang. Ia minta supaya kami tidak pulang. Tetapi kami tak ada persediaan uang, terpaksa ia kami tinggalkan," kata Jasmini. Jasmini berani pulang karena urusan Saminah katanya akan segera dibereskan ketua Rukun Warga setempat yang kini memang sedang mengamankan Saminah setelah ia "kena tangan" majikannya.

Jasmini berkata, Saminah bercerita kepadanya bahwa ia dinyos (ditempeli) setrika panas oleh majikannya, karena ia lupa mencabut aliran listrik sehabis menyetrika. Tangannya masih kelihatan bengkak dan hitam. "Kasihan Saminah mungkin hari itu ia benar-benar lupa, tetapi mengapa majikannya sampai tega ngenyos setrika di tangannya," kata Jasmini.

Tentu saja berita Saminah dinyos seterika itu makin menyedihkan Mbok Kaslam. "Nyong bisa jembong yen Saminah wis mulih (saya baru bisa ayem kalau Saminah betul-betul sudah pulang)," kata Mbok Kaslam yang malang itu.

Desa Jembangan dan sekitarnya sebenarnya tidak terlalu miskin. Tetapi banyak gadis-gadis setempat meninggalkannya. Alasannya karena beberapa "makelar" buruh rumah tangga datang menarik dan menawari pekerjaan bagi mereka. Tentu saja gadis-gadis tersebut terpikat dan coba-coba cari pengalaman di Jakarta.

"Beberapa gadis di sini pergi tanpa izin. Ketika pulang, mereka menjadi beban orangtuanya lagi. Misalnya, Mun****, Ma*** dan Su**, mereka pulang dalam keadaan hamil tanpa ketahuan siapa lelakinya. Saya kira pemerintah sudah membuat aturan agar penduduk desa yang bepergian harus membawa surat izin atau surat jalan dari lurahnya. Sering hal ini tidak diperhatikan, tetapi anehnya, mengapa pihak penampung bersedia menampung mereka? Padahal surat izin mereka tidak punya," kata Haji Malik Ibrahim, Lurah Gunung Wuled yang berseberangan dengan Desa Jembangan.

Tolong Nak

Kesedihan Mbok Kaslam adalah contoh kesedihan ibu dari desa yang ditinggalkan anaknya untuk menjadi pembantu di Jakarta. Andaikan para majikan di Jakarta tahu kesedihan mereka, barangkali mereka takkan seenaknya berbuat kasar terhadap pembantunya.

Mbok Kaslam sendiri tak terhenti-hentinya berpesan kepada saya agar Saminah secepatnya dipulangkan ke desanya. Mungkin ia tak tahan lagi menahan keresahan karena nasib malang yang menimpa anaknya. Ia tak bisa diyakinkan bukan Saminah yang salah tetapi majikannyalah yang terlalu kejam terhadap anaknya. Sebagai orang desa yang sederhana ia  selalu was-was, jangan-jangan anaknya lah yang sungguh-sungguh bersalah.

"Saya tidak mampu ke Jakarta untuk menengok Saminah. Karena saya tidak mempunyai uang lagi. Saya belum enak tidur dan terus sedih kalau belum melihat Saminah pulang dalam keadaan selamat kepada saya. Tolong Nak, pulangkan Saminah," pinta Mbok Kaslam.

Feature ini ditulis oleh Jimmy S. Harianto
Judul aslinya Tolong Pulangkan Saminah Secepatnya
Diterbitkan dalam buku Petruk Jadi Guru: Manusia & Kebatinan By Sindhunata.











 
Desain diolah oleh Sofyan NH | Bloggerized by Ideaku Online | Gunungwuled